Oleh : Anak Rohil
Tak hanya itu, Bioskop Ria pernah juga menjadi sarana satu-satunya bagi pemutaran film nasional yang memiliki nilai pendidikan sejarah dan juga film kisah nyata. Seperti pemutaran film perjuangan para pahlawan, dan juga film yang sempat heboh (kini bukan heboh lagi, berubah menjadi Viral) seperti film Ari Anggara.
Sewaktu itu saya guru dan pembimbing mengajak kami murid-muridnya untuk nonton. Namun sayangnya, saat itu kalau tidak salah cuma bayar Rp. 200 per orang. Kalau dibandingkan sekarang mungkin udah berapa ya nilainya...hehehehe..
Ada lagi hal yang membekas dan tak lekang dalam ingatan saya, Bioskop Ria tak hanya menjadi ajang untuk setakat nonton film, namun juga menjadi sarana dagangan bagi pedagang lain. Seperti didepan Bioskop Ria menjadi lapak untuk bermain gambot (sebenarnya Game Boy/permainan mewah kala itu) yang di sewa per jam atau per menit (maaf kalau salah) sebesar Rp. 100.
Kemudian bergeser sedikit di samping Bioskop Ria atau sebenarnya baru saya sadari dibawah Bioskop Ria itu ada juga permainan Biliar. Karena tepat disebelah Bioskop Ria itu ada jalan kecil (setelah umur 17 tahun baru saya sadar, kalau jalan kecil itu istilahnya ada gang). Yang saat ini saya tak ingat, apakah gang itu masih ada atau tidak.
Perlu saya sampaikan disini, tepat di depan Bioskop Ria dulu ada jam yang berdiri di tengah pertemuan empat jalan. Kalau istilahnya dulu, itu disebut Jam Gadangnya Bagansiapiapi..hehehe...
Jam itu juga sangat membantu masyarakat secara tak langsung. Karena orang yang pergi kerja, sekolah dan lainnya selalu menatap jam tersebut. Hal ini dilakukan untuk membantu mereka sampai lebih awal... Bersambung (Part III)..

Posting Komentar